HASIL PENGAMATAN KELOMPOK 5  
1. Davina Alma Gina (1303625027)  
2. Indah Lestari Pakpahan (1303625011)  
3. Egi Rahmadhani Nahak(1303625023)  
Kelas Pendidikan Kimia B 2025  
KEANEKARAGAMAN INTERAKSI BIODIVERSITAS HEWAN DI  
TAMAN MARGASATWA RAGUNAN  
Nama Umum (Lokal): Sitatunga, Antelop Rawa (Marshbuck).  
Nama Ilmiah: Tragelaphus spekii  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Phylum  
Nama Takson  
Animalia  
Chordata  
Class  
Mammalia  
Artiodactyla  
Bovidae  
Order  
Family  
Genus  
Tragelaphus  
Species  
Tragelaphus spekii  
Deskripsi Umum:  
Sitatunga, atau Antelop Rawa, adalah mamalia Bovidae berukuran sedang yang sangat teradaptasi  
untuk hidup di lingkungan berlumpur dan berawa di Afrika Tengah. Mereka adalah herbivora yang  
mahir berenang. Ciri khas utama Kuku yang memanjang dan melebar (adaptasi untuk berjalan di  
lumpur) dan merupakan perenang ulung. Ia menunjukkan dimorfisme seksual di mana jantan memiliki  
warna cokelat keabu-abuan gelap dengan tanduk spiral panjang, sedangkan betina cenderung  
berwarna cokelat kemerahan dan tidak bertanduk. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu  
mereka di rawa-rawa padat, yang mereka gunakan sebagai tempat berlindung dari predator.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Bentuk Tubuh: berukuran sedang, ramping, dan berkaki panjang.  
Warna Bulu: memiliki warna bulu coklat kemerahan (betina) hingga abu-abu kecoklatan (jantan),  
seringkali dengan tanda-tanda garis dan bintik putih di tubuhnya.  
Tanduk: Jika adalah jantan, ia akan memiliki tanduk panjang, melingkar dan memutar ke belakang.  
Ciri Kaki: Sitatunga dikenal memiliki kuku yang memanjang dan melebar (mirip pisang) yang  
merupakan adaptasi kunci untuk berjalan di tanah lunak dan rawa.  
Habitat  
: Sitatunga adalah antelop penghuni rawa. Habitat alaminya adalah rawa  
permanen, padang rumput teki, semak belukar rawa, dan hutan riparian (tepi  
sungai) di sepanjang Afrika Tengah.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: lingkungan kebun binatang, lingkungan yang disediakan menyerupai habitat  
alami dengan gundukan tanah (mungkin berfungsi sebagai area kering untuk  
beristirahat), banyak pepohonan, dan vegetasi dedaunan.  
: kuku kaki yang sangat panjang dan lebar. Berfungsi seperti sepatu salju agar  
tidak tenggelam saat berjalan di lumpur atau rawa yang becek.  
Manfaat dan Peranan : pemakan tumbuhan rawa, sumber makanan penting bagi predator di  
Ekologis  
habitat rawa Afrika, dan penyebaran benih melalui kotoran mereka.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: sedang beristirahat (berbaring) di area yang ditinggikan dan kering di  
bawah naungan pepohonan.  
Interaksi:  
Intraspesies: Tidak ada interaksi intraspesies (dengan Sitatunga lain) yang terlihat karena hanya  
ada satu individu.  
Interspecies/Lingkungan: Interaksi yang terlihat adalah beristirahat/berteduh di lingkungan yang  
disediakan (gundukan tanah kering dan pepohonan), menunjukkan hubungan antara hewan dan  
kebutuhan dasarnya (keamanan, kenyamanan termal).  
Nama Umum (Lokal): Bulus Moncong Babi, Kura-kura Hidung Babi.  
Nama Ilmiah: Carettochelys insculpta.  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Phylum  
Class  
Nama Takson  
Animalia  
Chordata  
Reptilia  
Order  
Testudines  
Family  
Carettochelyidae  
Carettochelys  
Genus  
Species  
C. insculpta atau Carettochelys insculpta  
Deskripsi Umum:  
Bulus Moncong Babi adalah reptil air tawar yang unik dan merupakan satu-satunya anggota yang  
tersisa dari famili kuno (Carettochelyidae). Ia memiliki penampilan yang menyerupai penyu laut karena  
keempat anggota badannya telah berevolusi menjadi sirip yang kuat, sangat berbeda dengan kaki  
berselaput pada kura-kura air tawar lainnya. Ciri paling khasnya adalah moncong berdaging dengan  
lubang hidung ganda yang menonjol, memberinya nama "hidung babi." Mereka adalah omnivora yang  
sangat akuatik, hanya betina yang sesekali keluar dari air untuk bertelur.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Bentuk Karapaks (Cangkang Atas): Karapaks terlihat bundar, pipih, dan ditutupi kulit liat (seperti  
kura-kura cangkang lunak) tetapi lebih tebal.  
Warna: Tubuh dan cangkang terlihat cokelat gelap kehitaman di air.  
Bentuk Kepala dan Hidung: Moncong tidak berbentuk tabung panjang seperti Amyda, melainkan  
berupa hidung pendek, besar, dan berdaging dengan lubang hidung ganda, sangat menyerupai  
moncong babi (ciri khas spesies ini).  
Kaki (Anggota Badan): Kaki berbentuk sirip seperti dayung yang sangat besar, menyerupai kaki  
penyu laut (ciri adaptasi yang unik). Kuku-kuku hanya terdapat pada dua jari di setiap sirip.  
Habitat  
: Sungai, danau, laguna, dan kolam di wilayah selatan Papua (Indonesia dan  
Papua Nugini), khususnya di perairan tawar dengan dasar berlumpur atau  
berpasir.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: lingkungan kebun binatang, berada di kolam air tawar buatan yang dangkal.  
: kuku kaki yang sangat panjang dan lebar. Berfungsi seperti sepatu salju agar  
tidak tenggelam saat berjalan di lumpur atau rawa yang becek.  
Manfaat dan Peranan : berperan sebagai pemakan buah-buahan yang jatuh ke air dan pembersih  
Ekologis  
alga, menjaga kejernihan perairan.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: terlihat mengambang atau berenang santai di bawah permukaan air.  
Bentuk sirip yang besar mengindikasikan bahwa hewan ini sangat aktif dan  
Adaptif di air.  
Interaksi:  
Termoregulasi: Mengambang di permukaan yang terkena cahaya matahari (meski samar)  
mungkin merupakan upaya termoregulasi yang halus, meskipun mereka umumnya cenderung  
lebih senang di bawah air.  
Predasi: Bulus memangsa ikan kecil, moluska, atau serangga air (pemangsa).  
Nama Umum (Lokal): Lutung Budeng  
Nama Ilmiah: Trachypithecus auratus.  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Nama Takson  
Animalia  
Chordata  
Phylum  
Class  
Mammalia  
Order  
Family  
Genus  
Species  
Primates  
Cercopithecidae  
Trachypithecus  
T. auratus atau Trachypithecus auratus  
Deskripsi Umum:  
Lutung Budeng (Javan Langur) adalah primata endemik Jawa. Hewan ini termasuk kera Dunia Lama  
yang sebagian besar folivora (pemakan daun), didukung oleh sistem pencernaan khusus. Meskipun  
dijuluki "Budeng" (hitam), spesies ini dikenal karena variasi warnanya yang unik (polimorfisme);  
mayoritas berwarna hitam pekat, namun ada pula yang berwarna emas-jingga. Semua bayi lahir  
dengan warna jingga cerah yang kontras, yang berfungsi sebagai sinyal pengenal bagi anggota  
kelompok. Mereka hidup secara arboreal dan membentuk kelompok sosial yang teratur.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Warna Bulu: Dominan hitam legam atau coklat gelap (ciri khas Lutung Budeng fase melanistik).  
Beberapa individu dalam spesies ini bisa berwarna jingga/emas (fase non-melanistik.  
Ekor: Ekor panjang (terlihat menjuntai atau melilit pada objek di kanan).  
Bentuk Tubuh: Tubuh ramping, sesuai dengan primata pemakan daun (folivora).  
Wajah: Wajah terlihat gelap, mungkin dikelilingi sedikit rambut yang lebih panjang atau abu-abu  
di pipi.  
Habitat  
: Hutan primer dan sekunder, hutan pegunungan, hutan dataran rendah, dan  
hutan bakau di Pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Mereka adalah arboreal (hidup  
di pohon).  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: berada di dalam kandang besi tinggi di kebun binatang.  
: Bayi yang baru lahir selalu berwarna oranye terang, padahal induknya hitam  
pekat. Warna terang ini berfungsi sebagai sinyal bagi monyet betina lain  
untuk ikut merawat bayi (sistem sosial).  
Manfaat dan Peranan : menyebarkan benih melalui kotorannya dan bagian dari rantai makanan  
Ekologis  
sebagai mangsa bagi predator besar seperti elang atau macan tutul Jawa  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: terlihat bergantung dan bertengger pada kayu/ranting yang disediakan di  
dalam kandang, menunjukkan perilaku arboreal alami mereka dan terdapat  
dua individu dalam satu kandang (walaupun di sisi yang berbeda),  
mengindikasikan bahwa mereka ditempatkan dalam kelompok sosial, sesuai  
dengan sifat Lutung yang hidup berkelompok.  
Interaksi:  
Interaksi Intraspesies:  
o
Sosial: Adanya dua individu dalam satu kandang menunjukkan interaksi sosial dasar seperti  
bertengger berdekatan atau berbagi ruang.  
Interaksi Abiotik/Lingkungan:  
o
Pergerakan: Berinteraksi dengan ranting/kayu sebagai tempat pergerakan dan istirahat,  
yang merupakan substitusi lingkungan alami (pohon) yang disediakan.  
Nama Umum (Lokal): Kuau Perak, Kuang Cermin, Pegar Perak.  
Nama Ilmiah: Lophura nycthemera.  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Phylum  
Class  
Nama Takson  
Animalia  
Chordata  
Aves  
Order  
Galliformes  
Family  
Phasianidae  
Genus  
Lophura  
Species  
L. nycthemera atau Lophura nycthemera  
Deskripsi Umum:  
Kuang Perak adalah burung darat dari famili Phasianidae (keluarga pegar dan ayam). Spesies ini  
dikenal karena dimorfisme seksual yang ekstrem. Jantan memiliki bulu yang spektakuler, tubuh dan  
ekor panjang berwarna perak-putih dengan pola garis hitam halus yang rumit, serta jambul hitam dan  
kulit wajah merah cerah. Sebaliknya, betina memiliki bulu yang lebih kusam, umumnya cokelat keabu-  
abuan, untuk kamuflase saat mengerami. Mereka adalah burung terestrial yang menghabiskan  
sebagian besar waktu mereka mengais makanan di lantai hutan.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Bulu (Plumage): Bagian tubuh utama dan ekor panjangnya berwarna putih keperakan dengan  
motif garis-garis tipis hitam yang tersusun rapi, memberikan efek visual seperti cermin atau  
perak.  
Kepala: Kepala berwarna hitam kebiruan atau gelap.  
Jambul: Terdapat jambul (crest) putih/keperakan yang menjuntai ke belakang.  
Wajah: Terdapat kulit merah yang tidak berbulu di sekitar mata.  
Ekor: Ekor sangat panjang dan berjenjang (graduated tail), merupakan ciri khas pejantan Kuang.  
Habitat  
: Kuang Perak berasal dari hutan pegunungan dan dataran tinggi di Asia  
Tenggara, terutama di Tiongkok Selatan, Vietnam, Myanmar, Thailand, Laos,  
dan Kamboja. Mereka hidup di bawah kanopi hutan yang rapat.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: berada di dalam kandang kawat besi dengan dasar tanah/pasir. Lingkungan  
ini adalah kebun binatang.  
: memiliki bulu putih keperakan bergaris hitam dan ekor yang sangat panjang,  
untuk pamer dan menarik perhatian betina saat musim kawin.  
Manfaat dan Peranan : membantu menyebarkan benih dan mengontrol populasi serangga, Menjadi  
Ekologis  
mangsa bagi predator darat dan udara di habitat aslinya, dan untuk  
Hiasan/Aviari.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: terlihat sedang makan (berinteraksi dengan tempat pakan), menunjukkan  
perilaku mencari makan (foraging).  
Interaksi:  
Interaksi Biotik (Manusia): Interaksi dengan pakan yang disediakan oleh manusia/penjaga  
(terlihat dari tempat pakan hijau di kandang).  
Interaksi Abiotik:  
o
Termoregulasi: Hewan berada di area yang terkena sinar matahari (terlihat dari bayangan  
yang kuat). Ini adalah upaya mengatur suhu tubuh (berjemur).  
o
Substrat Tanah/Pasir: Kuang Perak berinteraksi dengan lantai tanah/pasir yang  
merupakan habitat dasarnya (terrestrial), meskipun di lingkungan buatan.  
Nama Umum (Lokal) : Monyet kokah, Lutung Kokah  
Nama Ilmiah : Presbytis percura  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Nama Takson  
Animalia  
Kingdom  
Phylum  
Class  
Chordata  
Mammalia  
Order  
Primates  
Family  
Genus  
Species  
Cercopithecidae  
Presbytis  
Presbytis percura.  
Deskripsi Umum:  
Lutung Kokah (Presbytis comata) adalah primata endemik Jawa dari famili Cercopithecidae yang hidup  
berkelompok dan aktif di pepohonan (arboreal) di hutan tropis, dengan diet utama terdiri dari daun  
muda, bunga, dan buah-buahan. Spesies ini dicirikan oleh warna tubuhnya yang gelap atau  
kecokelatan, wajah kehitaman, postur ramping, dan ekor panjang yang berfungsi sebagai  
penyeimbang saat bergerak lincah di dahan. Lutung Kokah memiliki sistem pencernaan khusus untuk  
mengolah serat tinggi dari tumbuhan dan sangat bergantung pada kualitas hutan primer sebagai  
habitat makan, istirahat, dan berkembang biak, sehingga kerusakan habitat merupakan ancaman  
utama bagi kelangsungan hidupnya.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Bentuk Tubuh: berukuran sedang, tubuh ramping dengan tangan dan kaki panjang yang  
memudahkan bergerak dan bergelantungan di pohon.  
Warna Bulu: umumnya berwarna gelap kehitaman atau kecokelatan dengan bagian dada dan perut  
yang lebih terang; beberapa memiliki pola putih di sekitar dagu dan pipi seperti yang tampak pada  
gambar.  
Tangan & Kaki: jari-jari panjang dan kuat, berfungsi untuk mencengkeram cabang pohon maupun  
jeruji kandang seperti terlihat pada foto.  
Ekor: panjang dan tidak berbulu lebat, membantu menjaga keseimbangan saat memanjat atau  
berpindah antar dahan.  
Wajah: berwarna gelap dengan ekspresi mata tajam, hidung relatif kecil dan bibir terlihat halus.  
Habitat  
: Lutung kokah merupakan primata penghuni hutan hujan tropis, khususnya  
hutan dataran rendah hingga pegunungan di Pulau Jawa. Mereka hidup di  
tajuk pepohonan (arboreal) dan jarang turun ke tanah.  
Lokasi Ditemukan  
: Teramati berada di dalam kandang kebun binatang, terlihat berpegangan  
pada jeruji besi. Lingkungan ini kemungkinan dibuat sebagai area  
penangkaran atau konservasi yang menggantikan habitat asli di alam.  
Ciri Khas  
:Berbulu gelap dengan bagian dada dan wajah kontras terang, pergerakan  
lincah, tubuh ramping, dan Menjaga keseimbangan vegetasi hutan dengan  
konsumsi daun.  
Manfaat dan Peranan : Menjadi bagian penting dalam rantai makanan, membantu menyebarkan  
Ekologis  
benih melalui kotoran saat berpindah dan mengontrol populasi serangga,  
dan Menjaga keseimbangan vegetasi hutan dengan konsumsi daun.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: terlihat duduk diam di dalam kandang, berpegangan pada jeruji,  
ekspresinya tampak tenang atau mengamati sekitar, tidak terlihat aktivitas  
makan, lebih cenderung dalam posisi istirahat atau waspada pasif.  
Interaksi:  
Interaksi Abiotik :  
o
Monyet Kokah berinteraksi dengan teralis besi yang sangat rapat, menunjukkan interaksi  
dengan batas fisik yang membatasi gerakan alami (arboreal) di lingkungan penangkaran.  
Interaksi Biotik:  
o
Monyet menggunakan tangan dan kaki untuk memegang dan menyeimbangkan dirinya pada  
struktur logam vertikal kandang, sebagai pengganti dahan pohon yang biasa digunakan di  
alam liar.  
o
Secara tidak langsung, kehadiran monyet di dalam kandang ini menandakan interaksi  
dengan manusia melalui perawatan, pemberian pakan, dan pengelolaan kandang yang  
merupakan ciri lingkungan buatan.  
Interaksi Kognitif :  
Hewan terlihat menghadap lurus ke depan melalui celah jeruji. Perilaku ini menunjukkan  
o
interaksi mengamati lingkungan luar (pengunjung atau penjaga), yang merupakan perilaku  
umum primata di penangkaran.  
Nama Umum (Lokal) : Rusa Tutul  
Nama Ilmiah : Axis axis  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Nama Takson  
Animalia  
Chordata  
Mamalia  
Antiodactyla  
Cervidae  
Axis  
Kingdom  
Phylum  
Class  
Order  
Family  
Genus  
Species  
Axis axis  
Deskripsi Umum:  
Rusa tutul atau Axis axis adalah mamalia herbivora berukuran sedang dari keluarga Cervidae yang  
dikenal dengan pola totol putih yang tetap terlihat sepanjang hidupnya. Tubuhnya ramping, kaki relatif  
panjang, dan bulunya berwarna cokelat kemerahan dengan deretan bintik putih menyerupai pola  
tutul yang menjadi ciri khas utama spesies ini. Jantan memiliki ranggah bercabang yang terlepas dan  
tumbuh kembali setiap tahun, sementara betina umumnya tidak bertanduk. Rusa ini hidup  
berkelompok dan banyak ditemukan di padang rumput, hutan tropis, serta daerah semak terbuka di  
Asia Selatan, terutama India. Mereka aktif terutama pada pagi dan sore hari, memakan rerumputan,  
daun muda, serta buah-buahan hutan, dan memiliki kelincahan tinggi dalam berlari untuk  
menghindari predator.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Bentuk Tubuh: Berukuran sedang dengan tubuh ramping, leher panjang dan kaki relatif jenjang  
sehingga memudahkan mereka bergerak gesit saat berlari.  
Warna Bulu: Coklat kemerahan dengan deretan bintik putih yang kontras di sepanjang tubuh ciri  
utama yang tidak hilang sepanjang hidupnya. Betina cenderung memiliki warna lebih terang,  
sedangkan jantan sedikit lebih gelap.  
Tanduk: Hanya dimiliki oleh rusa jantan, berupa ranggah bercabang tiga yang lurus memanjang  
ke atas, tidak spiral seperti sitatunga. Dalam gambar terlihat setidaknya satu individu jantan  
dengan tanduk bercabang.  
Ciri Kaki: Kaki relatif ramping dan kuat, dilengkapi kuku kecil yang cocok untuk berlari cepat di  
padang rumput dan lantai hutan.  
Bentuk Kepala: Mungil dan memanjang, telinga tegak dan runcing, mata besar dengan ekspresi  
waspada.  
Habitat  
: penghuni hutan gugur, padang rumput, area tepi hutan, dan wilayah dengan  
sumber air yang cukup. Mereka banyak ditemukan di Asia Selatan seperti  
India, Sri Lanka, Nepal, serta kini telah diperkenalkan ke berbagai wilayah  
termasuk taman konservasi atau kebun binatang.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: Terlihat berada di area penangkaran/kebun binatang, berciri permukaan  
tanah kering, terdapat atap sebagai tempat berteduh, serta beberapa pohon  
dan vegetasi ringan sebagai sumber pakan atau tempat berteduh.  
: Bintik putih permanen di tubuh merupakan identitas utama spesies ini,  
hidup berkelompok, dan Jantan memiliki ranggah yang bercabang dan  
tumbuh ulang setiap tahun.  
Manfaat dan Peranan : Menjadi herbivora yang memakan rumput, dedaunan, dan buah, sehingga  
Ekologis  
membantu menjaga keseimbangan vegetasi hutan, Menjadi mangsa alami  
predator besar dan Mendukung penyebaran biji melalui pencernaan dan  
kotoran mereka.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Rusa tampak beristirahat di bawah naungan bangunan untuk menghindari  
panas, Satu individu berdiri di depan, sedangkan lainnya berbaring santai di  
belakang.  
Interaksi:  
Interaksi Abiotik (Termoregulasi dan Substrat) :  
o
Beberapa rusa beristirahat di bawah atap buatan (naungan) pada siang hari yang terik. Ini  
adalah perilaku untuk mengatur suhu tubuh (mencari keteduhan).  
Rusa berinteraksi dengan tanah kering/berpasir sebagai alas tempat mereka berdiri dan  
beristirahat.  
o
Interaksi Biotik:  
Rusa di bagian depan tampak mengunyah/memakan sesuatu (kemungkinan sisa rumput  
kering atau pakan yang disediakan).  
Interaksi Intraspesies (Sosial) :  
o
o
Terlihat beberapa individu Rusa Tutul berada dalam satu area, dengan satu individu berdiri  
di depan dan beberapa lainnya berbaring di bawah naungan. Ini menunjukkan interaksi  
sosial dalam kelompok.  
Nama Umum (Lokal): Binturong, Kucing Beruang, menturung, menturun.  
Nama Ilmiah: Arctictis binturong.  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Phylum  
Class  
Nama Takson  
Animalia  
Chordata  
Mammalia  
Order  
Carnivora  
Family  
Viverridae  
Genus  
Arctictis  
Species  
A.binturong atau Arctictis binturong  
Deskripsi Umum:  
Binturong, atau sering disebut kucing beruang, adalah mamalia arboreal (berpohon) omnivora dari  
keluarga musang (Viverridae) yang tersebar di Asia Tenggara dan merupakan satu-satunya anggota  
genus Arctictis. Dikenal aktif di malam hari, Binturong memiliki tubuh panjang, rendah, dan berotot  
yang ditutupi bulu hitam tebal dengan kumis dan alis lebat, serta uniknya, mereka berjalan dengan  
telapak kaki rata seperti beruang. Ciri khas paling penting mereka adalah ekor prehensil yang sangat  
kuat, digunakan untuk mencengkeram dahan saat memanjat, menjadikan Binturong sebagai salah  
satu dari hanya dua spesies karnivora yang memiliki kemampuan ekor tersebut.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Tubuh: Panjang, rendah, dan gempal, seringkali disamakan seperti beruang atau musang besar  
Bulu: Tebal, kasar, dan panjang. Warnanya umumnya hitam atau cokelat tua, terkadang dengan  
ujung berujung abu-abu atau krem sehingga tampak berbintik-bintik.  
Ekor: Panjangnya hampir sama dengan panjang kepala dan tubuh, tebal di pangkal, dan prehensil  
(dapat mencengkeram) untuk membantu memanjat.  
Wajah: Memiliki moncong pendek dengan kumis hitam panjang dan putih.  
Kaki: Kaki rata seperti beruang dan berjalan dengan kaki datar, namun memiliki kemampuan  
untuk memutar pergelangan kaki 180 derajat untuk mencengkeram saat menuruni pohon  
dengan kepala terlebih dahulu.  
Cakar: Tajam dan dapat membantu mencengkeram dahan.  
Habitat  
: Binturong tersebar luas di hutan tropis dan subtropis di Asia Selatan dan  
Tenggara, termasuk hutan primer dan sekunder, mulai dari dataran rendah  
hingga ketinggian sekitar 1.000 mdpl. Mereka mendiami wilayah yang luas,  
mencakup negara-negara seperti India, Tiongkok, Myanmar, Malaysia,  
Indonesia, Filipina, dan negara-negara lain di Indocina.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: Teramati dalam kandang kebun binatang, terlihat binturong berada di  
sebuah bangunan kayu seperti rumah pohon. Lingkungan ini dibuat  
sedimikian rupa agar menyerupai dengan habitat aslinya.  
: memiliki aroma yang khas, seperti popcorn mentega atau pandan, aktif di  
malam hari (nokturnal) dan merupakan pemanjat yang mahir, dan betina  
biasanya lebih besar dari binturong jantan dan memiliki pseudo-penis.  
Manfaat dan Peranan : Sebagai penyebar biji dan pengendali hama. Mengeluarkan biji tumbuhan  
Ekologis  
melalui kotoran, membantu regenerasi hutan, termasuk untuk jenis pohon  
seperti pohon beringin pencekik, karena enzim pencernaannya melunakkan  
kulit biji yang keras sehingga lebih mudah berkecambah. Membantu  
mengendalikan populasi hewan pengeratpredator besar.  
Catatan Hasil  
Pengamtan  
: Terlihat tertidur di atas sebuah kayu, binturong terlihat sedang tertidur di  
siang hari, menandakan dia adalah mahkluk nokturnal.  
Interaksi:  
Interaksi Abiotik (Termoregulasi) :  
o
Hewan berada di tempat yang terbuka namun terlindung oleh kanopi pohon di atasnya  
(terlihat dari cahaya yang terfilter), menunjukkan perilaku mencari kenyamanan termal.  
Interaksi Biotik:  
Terdapat tumbuhan merambat di dinding beton, yang mungkin digunakan Binturong (hewan  
arboreal) untuk memanjat atau berinteraksi secara fisik, meskipun ia sedang beristirahat.  
o
Nama Umum (Lokal) : Labi-labi, Bulus.  
Nama Ilmiah : Amyda cartilaginea.  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Phylum  
Class  
Nama Takson  
Animalia  
Chordata  
Reptilia  
Order  
Testudines  
Family  
Trionychidae  
Genus  
Amyda  
Species  
A.cartilaginea atau Amyda cartilaginea  
Deskripsi Umum:  
Labi-labi adalah salah satu kelompok kura-kura air tawar yang paling khas, tersebar luas, dan memiliki  
evolusi yang menakjubkan. Mereka dikenal secara global karena adaptasi unik dan ekstrem mereka  
terhadap kehidupan akuatik, sebuah karakteristik yang secara dramatis membedakan mereka dari  
sepupu mereka yang bercangkang keras (famili Testudinidae) dan kura-kura lainnya. Keunikan Labi-  
labi terletak pada penyimpangan morfologisnya dari cetak biru kura-kura klasik. Mereka telah  
meninggalkan cangkang berat dan berkeping-keping demi karapas yang datar, pipih, dan ditutupi kulit  
liat serta fleksibel. Evolusi ini bukanlah tanpa alasan; cangkang ringan dan hidrodinamis ini  
memungkinkan mereka bergerak dengan kecepatan dan kelincahan yang luar biasa di dalam air,  
menjadikannya predator penyergap yang sangat efektif.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Bentuk Tubuh: Oval atau agak bulat, lebih pipih, dan tanpa sisik.  
Karapas: Tempurung punggung lunak yang dilapisi kulit tebal berwarna abu-abu hingga hitam.  
Pada individu muda, kadang terdapat bintik-bintik kuning.  
Plastron: Tempurung bagian bawah juga tertutup kulit liat.  
Leher: Panjang dan fleksibel, memungkinkannya menghirup udara dari permukaan saat  
sebagian tubuhnya terendam dan Kulit leher dapat melipat saat memendek.  
Kepala: Berbentuk segitiga dan lincah dan Hidung memanjang berbentuk tabung, seperti  
belalai, dengan dua lubang untuk bernapas.  
Mulut: Memiliki rahang kuat tanpa gigi, ditutupi lempengan zat tanduk yang tajam.  
Kaki: Memiliki selaput di antara jari-jarinya yang berfungsi sebagai dayung untuk bergerak  
cepat di air.  
Ekor: Jantan memiliki ekor yang lebih panjang dan tebal dibandingkan betina, yang ekornya  
lebih pendek dan ramping.  
Habitat  
: perairan air tawar di daerah tropis dan subtropis, seperti sungai, danau, dan  
rawa-rawa, di mana mereka lebih menyukai air dengan arus lambat, tenang,  
dan dasar berupa lumpur, pasir, atau kerikil. Labi-labi umumnya tersebar luas  
di seluruh kepulauan Indonesia, termasuk Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali,  
Lombok, dan Papua.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: Teramati dalam kandang kebun binatang, terlihat labi-labi ditempatkan di  
sebuah kolam yang hampir menyerupai habitat aslinya. Kandang tersebut  
dilengkapi kaca yang diperuntukkan agar pengunjung dapat melihat aktivitas  
labi-labi dengan lebih mudah.  
: cangkang lunak yang serta bentuk tubuhnya yang oval, lonjong, dan pipih,  
yang memungkinkannya bergerak cepat di air. Meskipun tidak bergigi, mereka  
memiliki rahang yang sangat kuat dan tajam, serta wajah yang tirus dengan  
moncong pendek yang menyerupai hidung pesek dengan dua lubang hidung  
untuk bernapas. Adaptasi akuatiknya dilengkapi dengan kaki berselaput.  
Manfaat dan Peranan : Rantai Makanan, Penyebar Benih, dan mereka menciptakan habitat dan  
Ekologis  
memodifikasi lingkungan bagi satwa liar lainnya.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Labi-labi terlihat sedang berenang berlalu lalang mengelilingi kolamnya  
dan terlihat bahwa hanya ada satu labi-labi di kolam tersebut.  
Interaksi:  
Interaksi Abiotik (Akuatik dan Substrat Buatan) :  
o
Labi-labi terlihat mengambang/berenang di air kolam buatan, menunjukkan adaptasi total  
dengan lingkungan perairan.  
Interaksi Biotik:  
Labi-labi terlihat mengambang/berenang di air kolam buatan, menunjukkan adaptasi total  
dengan lingkungan perairan.  
o
Nama Umum (Lokal): Kuao Lady Amherst, Kuao Tembaga Cina, Puyuh Amherst  
Nama Ilmiah: Chrysolophus amherstiae.  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Nama Takson  
Kingdom  
Phylum  
Class  
Animalia  
Chordata  
Aves  
Order  
Galliformes  
Family  
Genus  
Species  
Phasianidae  
Chrysolophus  
C. amherstiae atau Chrysolophus amherstiae.  
Deskripsi Umum:  
Kuao Lady Amherst adalah sejenis burung pegar hias dari keluarga Phasianidae yang berasal dari  
Tiongkok dan Myanmar. Burung ini terkenal dengan keindahan bulu jantannya yang berwarna-warni  
cerah, sementara betinanya memiliki bulu yang lebih kusam dan berwarna cokelat untuk kamuflase.  
Mereka adalah hewan diurnal, yang berarti aktif di siang hari, dan memiliki karakteristik fisik yang  
sangat berbeda antara jantan dan betina, termasuk perbedaan pada ekor panjang dan hiasan kepala  
yang mencolok pada jantan.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Kepala: Mahkota putih dengan garis-garis gelap dan jambul merah.  
Tengkuk: Putih dengan garis-garis gelap (jubah nuchal).  
Dada: Biru terang.  
Punggung: Sebagian biru tua, bagian bawah punggung biru.  
Perut: Putih.  
Ekor: Sangat panjang, berwarna putih keabu-abuan dengan garis-garis hitam dan garis-garis  
merah di pangkalnya.  
Sayap: Berwarna biru dan cokelat.  
Kaki: Berwarna biru keabu-abuan, dan paruh berwarna seperti tanduk.  
Kulit Wajah: Kulit di sekitar mata berwarna biru kehijauan.  
Habitat  
: Habitat asli kuau Lady Amherst (Lady Amherst pheasant) adalah hutan dan  
semak belukar lebat di daerah pegunungan di Tiongkok barat daya dan  
Myanmar utara. Burung ini juga telah diperkenalkan dan ditemukan di habitat  
lain, seperti di Inggris.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: Lingkungan kebun binatang, lingkungan yang disediakan menyerupai  
habitat alami dengan memberikan pohon di dalam sangkar/kandangnya.  
: warna bulu jantan yang sangat mencolok dengan jambul merah, leher  
belakang putih kehitaman, punggung hijau metalik, dan ekor panjang yang  
bergaris hitam-putih.  
Manfaat dan Peranan : Penyebaran Biji, Pengendalian Populasi Invertebrata, Indikator Kesehatan  
Ekologis  
Lingkungan, Nilai Estetika dan Edukasi, Penelitian Ilmiah.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Amherst terlihat sedang berinteraksi dengan pengunjung kebun binatang  
dan hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan burung tersebut telah  
beradaptasi dengan lingkungan sekitar.  
Interaksi:  
Interaksi Abiotik:  
o
Burung berinteraksi dengan lantai tanah/pasir kandang sebagai substrat tempat ia berdiri  
dan mencari makan.  
o
Bayangan teralis yang kuat di lantai menunjukkan adanya sinar matahari langsung, yang  
digunakan burung darat ini untuk menghangatkan diri (berjemur/termoregulasi)  
Interaksi Biotik:  
Burung terlihat berdiri di dekat dan menghadap ke wadah pakan hijau yang berisi makanan  
buatan, menunjukkan interaksi utama dengan makanan yang disediakan oleh manusia.  
o
Nama Umum (Lokal): Kancil, Pelanduk  
Nama Ilmiah: Tragulus javanicus.  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Phylum  
Nama Takson  
Animalia  
Chordata  
Class  
Mammalia  
Artiodactyla  
Tragulidae  
Tragulus  
Order  
Family  
Genus  
Species  
T. javanicus atau Tragulus javanicus  
Deskripsi Umum:  
Kancil atau Pelanduk (Tragulus javanicus) mempunyai ukuran tubuh yang kecil seukuran dengan  
kelinci. Panjang tubuhnya sekitar 20-25 cm. Tubuh bagian atas Kancil atau Pelanduk berwarna coklat  
kemerahan, sedangkan tengkuk bagian tengah biasanya lebih gelap daripada bagian tubuh lainnya.  
Bagian bawah berwarna putih dengan batas sedikit kecoklatan di tengah, tanda khusus di  
kerogkongan dan dada bagian atas berwarna coklat tua. Kancil atau Pelanduk merupakan binatang  
herbivora yang menyukai rumput, daun-daunan yang berair, kecambah, buah-buahan yang jatuh di  
tanah, kulit pisang, papaya, ubi, dan ketela. Binatang ini mempunyai masa mengandung selama 137-  
155 hari dan akan menyusui bayinya hingga berusia antara 60-70 hari.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Bulu: Berwarna Cokelat kemerahan di bagian atas, sedangkan bagian bawah tubuh  
berwarna putih.  
Tengkuk: Biasanya berwarna cokelat gelap.  
Kepala: Berbentuk Segitiga,Telinga berukuran Kecil dan menonjol, serta Moncong yang  
Runcing.  
Kaki: Berbentuk Ramping, tipis, dan berkuku.  
Habitat  
: hutan tropis yang lebat, lembap, dan selalu berada di dekat air. Mereka lebih  
suka berada di semak belukar lebat dan sering membuat jalur kecil di dalam  
hutan untuk bergerak. Sebaran geografisnya meliputi Asia Tenggara, seperti  
Semenanjung Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: Lingkungan kebin binatang, terlihat bahwa kancil tersebut dikurung di dalam  
sebuah kandang yang dimana lingkungan di dalam kandang tersebut dibuat  
menyerupai habitat aslinya dengan disediakannya tumbuh-tumbuhan yang  
menyerupai semak-semak.  
: mamalia kecil berukuran sekitar kelinci dengan ciri fisik seperti tubuh kecil  
dan ramping, punggung melengkung, moncong runcing, dan telinga kecil yang  
menonjol. Warnanya umumnya cokelat kemerahan dengan bagian bawah  
tubuh berwarna putih, dan jantan sering memiliki taring yang keluar dari  
bibirnya. Kancil juga dikenal sebagai hewan yang aktif di malam hari  
(nokturnal), pemalu, dan penyendiri, serta memiliki diet herbivora.  
Manfaat dan Peranan Ekologis :  
Konsumen Primer: Kancil adalah herbivora yang memakan buah-buahan jatuh, daun, kuncup, dan  
rerumputan, sehingga mengontrol vegetasi dan menjadi sumber energi bagi predator (konsumen  
sekunder) seperti macan dan ular.  
Penyebaran Biji: Sebagai pemakan buah, kancil membantu penyebaran biji melalui kotorannya,  
yang penting untuk regenerasi tanaman dan menjaga keragaman flora di ekosistem hutan hujan.  
Indikator Kesehatan Ekosistem: Keberadaan populasi kancil yang sehat menunjukkan  
keseimbangan ekosistem hutan, sementara penurunan populasinya akibat perburuan dan hilangnya  
habitat mengindikasikan adanya gangguan lingkungan.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Terlihat bahwa kancil sedang beristirahat di bawah tumbuhan atau semak-  
semak dan hal ini menunjukkan bahwa kancil memiliki sifat pemalu serta  
merupakan hewan nokturnal.  
Interaksi:  
Interaksi Abiotik:  
o
Kancil terlihat sedang berbaring atau beristirahat di atas lantai kandang yang berupa tanah  
atau pasir kering, menunjukkan interaksi dengan substrat dasar.  
Interaksi Biotik:  
Terdapat tumbuhan kecil berdaun hijau di dalam kandang. Kancil (herbivora) mungkin  
berinteraksi dengan tumbuhan tersebut sebagai sumber pakan atau elemen habitat.  
Interaksi kognitif:  
Kancil berada di antara serasah dan vegetasi kecil (walaupun di kandang) dan postur  
o
o
tubuhnya rendah, menunjukkan perilaku bersembunyi atau menggunakan warna tubuhnya  
sebagai kamuflas  
KEANEKARAGAMAN INTERAKSI BIODIVERSITAS TUMBUHAN DI  
LINGKUNGAN SEKITAR RUMAH  
Nama Umum (Lokal): Pandan Wangi, Pandan.  
Nama Ilmiah: Pandanus amaryllifolius.  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Nama Takson  
Kingdom  
Plantae  
Phylum  
Class  
Tracheophyta  
Liliopsida  
Order  
Family  
Genus  
Species  
Pandanales  
Pandanaceae  
Pandanus  
P. amaryllifolius atau Pandanus amaryllifolius  
Deskripsi Umum:  
Pandan Wangi adalah tumbuhan semak tropis yang mudah dikenali dari daunnya yang panjang, tipis,  
dan tersusun seperti kipas (roset). Tumbuhan ini merupakan monokotil dan berbeda dari kebanyakan  
kerabat Pandan lain karena tidak memiliki duri pada tepian daunnya. Nilai utama tanaman ini terletak  
pada aroma wangi kuat yang khas, berasal dari senyawa alami yang dimanfaatkan luas sebagai  
pewangi dan penambah rasa pada masakan, kue, dan minuman di Asia Tenggara. Berbeda dengan  
pandan liar lainnya, dan kemampuannya untuk tumbuh rimbun di lingkungan yang lembab, sering kali  
dibudidayakan dalam pot sebagai tanaman hias sekaligus bahan dapur yang mudah diperbanyak  
melalui stek batang.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Daun: Panjang, ramping, berbentuk pita, dan ujungnya meruncing. Daunnya tersusun melingkar  
dan rapat di pusat tanaman, membentuk roset.  
Warna: Daun berwarna hijau cerah dan mengkilap. Tidak terlihat adanya duri pada tepi daun  
(membedakannya dari beberapa spesies Pandanus liar).  
Aroma: ciri khas spesies ini adalah aroma wangi yang kuat.  
Habitat  
: Biasanya ditemukan di daerah tropis, tumbuh subur di tanah lembab, dekat  
rawa, atau di bawah naungan pohon.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: ditanam di dalam pot dan diletakkan di teras atau balkon. Ini adalah  
lingkungan budidaya atau rumah tangga.  
: aroma yang sangat wangi seperti vanila atau kacang-kacangan, jarang  
berbunga dan berbuah. Perbanyakan dilakukan hampir seluruhnya secara  
vegetatif (stek atau anakan), berbeda dari kebanyakan spesies genus  
Pandanus lainnya (yang sering berduri), P. amaryllifolius memiliki daun yang  
mulus tanpa duri di tepinya.  
Manfaat dan Peranan : Sebagai produsen utama, Pandan melakukan fotosintesis, menghasilkan  
Ekologis  
oksigen, dan menjadi dasar rantai makanan. Daunnya adalah penyedap rasa  
dan pewangi alami yang umum digunakan dalam masakan dan minuman di  
Asia Tenggara (misalnya, nasi, kue, santan). Digunakan dalam pengobatan  
tradisional (misalnya, untuk menurunkan gula darah atau sebagai penenang  
ringan).  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Tanaman tampak sehat dengan daun yang hijau cerah dan pertumbuhan  
yang rimbun, Tumbuhan ditempatkan di tempat yang mendapat cahaya  
matahari yang cukup (terlihat dari pencahayaan terang dan bayangan di  
lantai), Tanah penanaman tampak lembab (ciri Pandan yang menyukai air).  
Interaksi:  
Interaksi Abiotik (Fotosintesis):  
o
Interaksi dengan cahaya matahari dan air untuk melakukan fotosintesis, yang merupakan  
proses kehidupan utama tumbuhan.  
Interaksi Abiotik (Lingkungan Budidaya):  
o
Interaksi dengan pot sebagai pembatas pertumbuhan akar dan tanah/media tanam  
sebagai penyedia nutrisi.  
Interaksi Biotik (Antar Tumbuhan):  
o
Adanya tanaman lain menunjukkan adanya kompetisi spasial dan cahaya (meskipun  
minimal karena ditanam di pot terpisah).  
Interaksi Biotik (Manusia):  
o
Perawatan yang baik menunjukkan interaksi dengan manusia melalui penyiraman dan  
pemupukan.  
Nama Umum (Lokal): Pohon Mangga.  
Nama Ilmiah: Mangifera indica.  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Nama Takson  
Kingdom  
Plantae  
Phylum  
Class  
Tracheophyta  
Magnoliopsida  
Sapindales  
Order  
Family  
Genus  
Species  
Anacardiaceae  
Mangifera  
M. indica atau Mangifera indica  
Deskripsi Umum:  
Mangga adalah pohon berkayu keras dan berumur panjang yang dapat tumbuh menjadi sangat besar  
dengan tajuk yang rimbun dan melebar. Pohon ini berfungsi sebagai pohon peneduh yang penting di  
lingkungan tropis. Batangnya kokoh dan seringkali ditumbuhi lumut. Produk utamanya adalah buah  
drup (berbiji tunggal) yang merupakan salah satu buah tropis paling populer di dunia. Pohon ini  
memiliki peran ekologis ganda, yaitu sebagai penyerap karbon yang efisien dan penyedia habitat bagi  
fauna lokal seperti burung dan serangga.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Bentuk Pohon: Pohon berukuran besar, bercabang banyak, dan memiliki tajuk (kanopi) yang  
rimbun dan lebar.  
Batang: Tegak, berkayu keras, dan terlihat kasar dengan kulit yang retak-retak dan berwarna  
cokelat keabu-abuan.  
Daun: Daun tampak rimbun, berwarna hijau gelap, dan berbentuk memanjang (lanset) (terlihat  
dari kerapatan kanopi).  
Buah: Terlihat banyak buah kecil bergerombol di ujung ranting (mungkin masih muda atau  
bunga yang sudah menjadi bakal buah, terlihat samar-samar di kanopi atas).  
Percabangan: Cabang-cabang tidak teratur dan kuat, seringkali tumbuh menyebar ke samping.  
Habitat  
: Hutan tropis, namun sekarang ditanam secara luas di seluruh daerah tropis  
dan subtropis. Pohon ini tahan terhadap kekeringan setelah mapan.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: Pohon berada di lingkungan pinggir jalan atau area perumahan lingkungan  
sekitar.  
: Menghasilkan buah berbiji tunggal yang memiliki aroma dan rasa khas,  
pohon berukuran sangat besar dan berumur panjang (hingga ratusan tahun)  
dengan tajuk yang melebar, tanaman Mangga menghasilkan getah yang dapat  
menyebabkan iritasi kulit.  
Manfaat dan Peranan : Dasar rantai makanan, Tajuknya yang rimbun menjadi tempat berlindung  
Ekologis  
dan bersarang bagi berbagai spesies burung, serangga, dan tupai, Pohon  
besar berperan penting dalam penyerapan karbon dioksida (CO₂),  
Menghasilkan buah yang sangat populer dan bernilai ekonomi tinggi.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Pohon menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat dan mapan (sudah tua)  
dengan percabangan yang tebal, Pohon tumbuh di daerah dengan  
pencahayaan penuh. Lingkungan sekitarnya terlihat lembab dengan banyak  
gulma dan semak di bagian bawah, serta bangunan buatan manusia.  
Interaksi:  
Interaksi Biotik (Lainnya):  
o
Interaksi dengan serangga penyerbuk (dihipotesiskan, untuk proses pembuahan dan  
menjadi buah).  
o
Interaksi Epifitisme: Interaksi dengan lumut atau tumbuhan kecil lain yang menempel  
pada batangnya (komensalisme).  
Interaksi Abiotik:  
o
Fotosintesis: Interaksi dengan sinar matahari (sebagai sumber energi) dan CO(sebagai  
bahan baku).  
o
Penyerapan Air: Interaksi dengan tanah untuk menyerap air dan nutrisi melalui akar.  
Interaksi dengan Manusia:  
o
Budidaya: Pohon ini sengaja ditumbuhkan dan dirawat oleh manusia (budidaya).  
Nama Umum (Lokal): Song of India, Pleomele.  
Nama Ilmiah: Dracaena reflexa  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Nama Takson  
Kingdom  
Plantae  
Phylum  
Class  
Tracheophyta  
Liliopsida (Monokotil)  
Asparagales  
Order  
Family  
Genus  
Species  
Asparagaceae  
Dracaena  
D. reflexa atau Dracaena reflexa  
Deskripsi Umum:  
Song of India adalah tanaman hias semak tropis yang sangat populer, terkenal karena daunnya yang  
menarik dan berwarna cerah (variegata). Daunnya berbentuk memanjang, melengkung ke bawah, dan  
memiliki garis-garis kuning atau emas yang kontras dengan warna hijau gelap, memberikan sentuhan  
warna cerah pada ruangan atau taman. Tanaman ini tumbuh tegak dan ramping, sering bercabang,  
dan mudah dirawat. Selain keindahannya, Song of India juga dihargai karena kemampuannya untuk  
membersihkan udara di dalam ruangan. Ia tumbuh baik di tempat yang cukup cahaya, namun juga  
toleran terhadap naungan ringan.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Daun: Sangat besar, lebar, dan berbentuk hati/perisai dengan permukaan daun yang tampak  
mengilap.  
Pertumbuhan: Tumbuh dekat permukaan tanah, menunjukkan karakteristik tanaman herba  
(non-berkayu).  
Habitat  
: Varietas asal (Dracaena reflexa) berasal dari pulau-pulau di Samudra Hindia,  
seperti Madagaskar, Mauritius, dan Réunion. Tumbuh di hutan tropis.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: Ditanam dalam pot dan diletakkan di pekarangan rumah. Ini adalah  
lingkungan budidaya tanaman hias.  
: Daun yang memiliki garis kuning keemasan di tepi daun yang kontras dengan  
warna hijau di tengah, daunnya tumbuh dan kemudian melengkung ke  
belakang (reflexa), memberikan tampilan yang anggun dan berlapis.  
Manfaat dan Peranan : Dasar rantai makanan, sangat populer sebagai tanaman hias indoor  
Ekologis  
maupun outdoor karena bentuk dan warna daunnya yang menarikia dikenal  
memiliki kemampuan untuk menyaring racun di udara dalam ruangan  
(misalnya formaldehida).  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
:
Pertumbuhan tampak sehat dan tegak. Daun melengkung ke bawah  
menunjukkan upaya untuk memaksimalkan penyerapan cahaya (walaupun  
tanaman ini toleran naungan). Tanaman diletakkan di tempat terbuka dan  
terpapar sinar matahari (pencahayaan cerah).  
Interaksi:  
Interaksi Abiotik (Fotosintesis): Interaksi dengan cahaya matahari yang kuat, esensial untuk  
menjaga intensitas warna kuning dan melakukan fotosintesis.  
Interaksi Abiotik (Lingkungan Budidaya): Interaksi dengan pot dan media tanam sebagai  
penyedia nutrisi.  
Interaksi Biotik (Manusia): Interaksi dengan manusia melalui perawatan (penyiraman,  
pemangkasan) karena statusnya sebagai tanaman hias.  
Nama Umum (Lokal): Melati Putih  
Nama Ilmiah  
: Jasminum sambac  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Phylum  
Class  
Nama Takson  
Plantae  
Tracheophyta  
Magnoliopsida  
Lamiales  
Order  
Family  
Oleaceae  
Genus  
Jasminum  
Species  
Jasminum sambac  
Deskripsi Umum:  
Melati Putih adalah tanaman semak berbunga yang terkenal karena aroma bunganya yang sangat  
wangi dan menyegarkan. Tumbuhan ini memiliki daun berwarna hijau gelap, berbentuk oval, dan  
tumbuh rimbun di tangkainya yang ramping. Meskipun bunganya kecil dan berwarna putih, Melati  
sangat dihargai sebagai bunga nasional di beberapa negara dan banyak digunakan dalam upacara  
adat, sebagai bahan parfum, teh, dan minyak atsiri. Tanaman ini mudah tumbuh di iklim tropis dan  
sering dijadikan tanaman hias karena keindahan dan aromanya.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Bentuk: Semak kecil, rimbun, bercabang banyak.  
Batang: Berkayu, ramping, cokelat kehijauan.  
Daun: Hijau mengilap, oval, ujung meruncing.  
Bunga: Kuncup kecil di ujung ranting, berwarna putih saat mekar, sangat harum.  
Percabangan: Padat dan menyebar.  
Habitat  
: hutan tropis dan subtropis di Asia, terutama berasal dari India dan Bhutan,  
dan kini tersebar luas di Asia Selatan dan Tenggara.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: Ditanam dalam pot dan diletakkan di pekarangan rumah. Ini adalah  
lingkungan budidaya tanaman hias.  
: Bunga putih sangat harum, daun hijau mengilap sepanjang tahun, dan  
mudah dibentuk dan dirawat sebagai tanaman hias.  
Manfaat dan Peranan : Produsen oksigen, menarik serangga penyerbuk, sebagai habitat serangga  
Ekologis  
kecil. Selain itu untuk Tanaman hias, bahan teh melati, aromaterapi,  
digunakan dalam upacara adat.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Tanaman terlihat sehat dan rimbun, ada pucuk dan kuncup bunga baru,  
lingkungan lembap dan cukup terang.  
Interaksi:  
Interaksi Abiotik :  
o
Tanaman Melati berinteraksi dengan cahaya matahari yang cerah (terlihat dari  
pencahayaan di foto) dan karbon dioksida untuk melakukan proses fotosintesis.  
Tanaman Melati berinteraksi dengan cahaya matahari yang cerah (terlihat dari  
pencahayaan di foto) dan karbon dioksida untuk melakukan proses fotosintesis.  
o
Interaksi Biotik :  
o
Melati tumbuh berdekatan dan berhimpitan dengan tanaman lain berdaun lebar  
(kemungkinan Dracaena) di sisi kanan, menunjukkan adanya kompetisi untuk  
mendapatkan cahaya dan ruang tumbuh.  
o
Kehadiran kuncup dan bunga menunjukkan adanya proses reproduksi, yang  
membutuhkan interaksi dengan serangga atau angin untuk penyerbukan.  
Nama Umum (Lokal): Pohon Belimbing Wuluh  
Nama Ilmiah : Averrhoa bilimbi  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Phylum  
Class  
Nama Takson  
Plantae  
Tracheophyta  
Magnoliopsida  
Oxalidales  
Order  
Family  
Oxalidaceae  
Averrhoa  
Genus  
Species  
Averrhoa bilimbi  
Deskripsi Umum:  
Belimbing Wuluh, atau yang sering disebut belimbing sayur, adalah pohon buah kecil berbatang  
tunggal yang berasal dari Indonesia dan tumbuh subur di seluruh Asia Tenggara. Pohon ini dicirikan  
oleh daunnya yang majemuk (tersusun banyak anak daun pada satu tangkai) dan menghasilkan buah  
kecil, hijau, berbentuk silinder yang bergerombol langsung pada batang atau cabang tua. Buahnya  
memiliki rasa sangat asam yang kuat. Belimbing wuluh biasanya ditanam di pekarangan rumah sebagai  
sumber bahan masakan, terutama untuk memberi rasa asam pada sayur, sambal, atau membuat  
manisan.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Bentuk Pohon: Pohon berukuran sedang, tumbuh tegak dengan percabangan banyak,  
membentuk tajuk yang agak rimbun.  
Batang: Berwarna cokelat keabu-abuan, tidak terlalu besar, dan cenderung berkayu lunak.  
Batang utama tampak tegak dengan cabang-cabang tipis memanjang.  
Daun:  
Daun majemuk menyirip (pinnate).  
Terdiri dari banyak anak daun yang tersusun berpasangan.  
Bentuk anak daun lonjong-lancip, tipis, berwarna hijau muda hingga hijau tua.  
Daun tampak menggantung dan bergerombol di ujung ranting.  
Bunga: Pada umumnya bunga kecil, berwarna merah keunguan, tumbuh langsung dari batang  
(cauliflory). Bunga belum tampak jelas di foto.  
Buah: Buah belimbing wuluh berbentuk lonjong seperti torpedo, berwarna hijau terang dan  
tumbuh bergerombol langsung pada batang. Pada foto buah belum terlihat.  
Habitat  
: daerah tropis yang lembap, sering ditemukan tumbuh secara alami maupun  
dibudidayakan di pekarangan rumah, kebun, dan lahan pertanian di dataran  
rendah hingga ketinggian 500 meter di atas permukaan laut.  
Lokasi Ditemukan  
: Pohon tumbuh di pekarangan luar dekat dinding dan tumpukan material  
bangunan. Area teduh sebagian dan cukup lembap.  
Ciri Khas  
: Daun majemuk menyirip khas keluarga Oxalidaceae, buah tumbuh langsung  
dari batang (cauliflory), dan rasa buah sangat asam dan berair.  
Manfaat dan Peranan : Penyedia makanan bagi serangga (bunga) dan hewan kecil. Tajuk memberi  
keteduhan dan membantu menjaga kelembapan tanah. Buah digunakan  
sebagai bumbu masak (asam alami). Bisa dijadikan bahan minuman  
tradisional, manisan, atau obat herbal.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Pohon tampak tumbuh subur meski berada di area sempit. Daun muda  
tampak sehat, sementara beberapa daun tua mulai menguning.  
Interaksi:  
Interaksi Abiotik :  
o
Pohon Belimbing Wuluh berinteraksi dengan cahaya matahari (terlihat cerah) dan karbon  
dioksida untuk melakukan proses fotosintesis.  
o
Batangnya yang bercabang banyak berinteraksi dengan gravitasi untuk menopang struktur  
dan daun majemuknya.  
Interaksi Biotik :  
o
Buah dan daunnya berpotensi menjadi objek interaksi herbivori oleh serangga atau hewan  
lain.  
Pohon tumbuh di area domestik, sering ditanam oleh manusia untuk dimanfaatkan buahnya  
sebagai bumbu masakan.  
Nama Umum (Lokal): Sirih Gading Emas  
Nama Ilmiah : Epipremnum aureum  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Phylum  
Class  
Nama Takson  
Plantae  
Tracheophyta  
Magnoliopsida  
Alismatales  
Order  
Family  
Araceae  
Genus  
Epipremnum  
Epipremnum aureum  
Species  
Deskripsi Umum:  
Sirih Gading adalah tanaman merambat yang sangat populer sebagai tanaman hias indoor karena  
perawatannya yang mudah dan kemampuannya untuk bertahan dalam kondisi cahaya rendah.  
Tanaman ini dicirikan oleh daunnya yang berbentuk hati dan memiliki pola variegata (berwarna ganda)  
dengan kombinasi hijau dan kuning keemasan. Ia termasuk dalam famili Araceae (seperti Talas) dan  
dapat tumbuh menjuntai atau memanjat dengan akar udara. Selain indah, Sirih Gading juga dikenal  
sebagai salah satu tanaman yang efektif membersihkan racun di udara dalam ruangan.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Bentuk Tanaman: Tumbuh merambat atau menjuntai, membentuk rumpun lebat yang dapat  
merayap di tanah atau memanjat pada media rambat.  
Batang: Batang lunak, berwarna hijau muda hingga hijau kekuningan, memiliki ruas-ruas tempat  
akar gantung tumbuh.  
Daun:  
Bentuk daun hati (cordate) dengan ujung meruncing.  
Warna hijau cerah dengan corak kuning keemasan (variegata).  
Permukaan daun licin, mengkilap, dan tebal.  
Daun tersusun berselang-seling pada batang menjalar.  
Akar:  
Akar adventif tumbuh dari ruas batang, berfungsi untuk menempel saat merambat.  
Akar bawah berkembang dari pangkal batang ke tanah.  
Bunga: Tanaman jarang berbunga saat dibudidayakan di pekarangan; bunga kecil berupa tongkol  
(spadix) khas famili Araceae.  
Habitat  
: Hutan hujan tropis basah di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan Pasifik.  
Secara alami, ia tumbuh sebagai tanaman merambat di lantai hutan atau  
memanjat batang pohon yang tinggi.  
Lokasi Ditemukan  
: Ditanam di pekarangan rumah dalam pot, ditempatkan di area semi-teduh  
dengan cahaya yang cukup.  
Ciri Khas  
: Daun berbentuk hati dengan pola variegata kuning emas, tumbuh merambat  
panjang dengan akar gantung dari setiap ruas batang, sangat adaptif dan  
mudah tumbuh di berbagai kondisi.  
Manfaat dan Peranan : Membantu menjaga kelembaban mikro di area tanam, tanaman hias  
Ekologis  
populer untuk indoor maupun outdoor, dapat menyerap polutan udara  
(misalnya formaldehida), dan memberi kesan sejuk dan estetis pada ruangan  
atau pekarangan.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Tumbuh cepat dan subur, dengan batang yang memanjang serta akar  
gantung yang terlihat jelas, dan tersedia cahaya tidak langsung yang cukup,  
media tanam terlihat lembap, dan pot berada di area terlindung.  
Interaksi:  
Interaksi Biotik:  
Akar gantung dapat menjadi tempat singgah serangga kecil.  
Tanaman dapat menjadi habitat mikro bagi fauna kecil di pot.  
Interaksi Abiotik:  
Memerlukan cahaya tidak langsung untuk menjaga corak daun tetap cerah.  
Tumbuh baik pada kelembapan tinggi dan tanah gembur.  
Interaksi dengan Manusia:  
Dibudidayakan sebagai tanaman hias.  
Dirawat rutin dengan penyiraman dan pemangkasan batang merambat.  
Nama Umum (Lokal): Pacing Pentul  
Nama Ilmiah : Costus woodsonii  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Nama Takson  
Kingdom  
Plantae  
Phylum  
Class  
Tracheophyta  
Liliopsida  
Order  
Family  
Genus  
Species  
Zingiberales  
Zingiberaceae  
Costus  
Costus woodsonii  
Deskripsi Umum:  
Pacing Pentul adalah tumbuhan herba tegak yang sering ditanam sebagai tanaman hias atau tanaman  
obat di daerah tropis. Tumbuhan ini dicirikan oleh batangnya yang lurus dan sering terlihat seperti  
batang tebu kecil, serta daunnya yang tersusun spiral mengelilingi batang, menghasilkan kesan  
rimbun. Ciri paling khasnya adalah bunga yang muncul dari ujung batang dalam bentuk kerucut atau  
'pentul' berwarna merah atau cokelat, yang kemudian mengeluarkan bunga berwarna putih atau  
kuning. Pacing Pentul dikenal karena kemampuannya tumbuh cepat dan sering digunakan dalam  
pengobatan tradisional.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Bentuk Tanaman: Herba tegak, tumbuh berumpun dari pangkal, dengan batang semu yang  
muncul dari rimpang di tanah.  
Batang: Berbentuk tegak, silindris, hijau kekuningan, tidak berkayu, dan tumbuh dalam rumpun  
padat.  
Daun:  
Daun tersusun spiral mengelilingi batang.  
Bentuk daun elips hingga lonjong, permukaan halus dan mengkilap.  
Warna hijau tua dan tebal menyerupai daun tanaman Zingiberaceae lainnya.  
Bunga:  
Terdapat kuncup bunga berbentuk kerucut (pentul) berwarna merah-kejinggaan seperti  
pada foto.  
Bunga kecil-kecil tumbuh dari sisik pada kerucut tersebut.  
Bentuk bangunan bunganya menjadi ciri khas paling mudah dikenali.  
Rimpang: Rimpang berada di bawah tanah, berfungsi sebagai tempat penyimpanan energi serta  
untuk perbanyakan vegetatif.  
Habitat  
: Tempat lembap dan tropis, seperti hutan lembap tepian sungai, serta area teduh  
yang tidak terkena sinar matahari langsung sepanjang hari.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: Terlihat ditanam di halaman/pekarangan rumah dengan pencahayaan cukup  
dan media tanam pot besar atau tanah pekarangan.  
: Bunga berbentuk kerucut merah (pentul), daun tersusun spiral (spiral  
ginger), tumbuh berumpun dan memiliki rimpang kuat, batang tidak berkayu,  
khas Zingiberaceae.  
Manfaat dan Peranan : Menyediakan nektar bagi serangga dan burung kecil, rimpangnya  
Ekologis  
: membantu menjaga stabilitas tanah karena tumbuh rapat, Tanaman hias:  
Karena bentuk bunga merah yang mencolok, obat tradisional: Beberapa  
spesies Costus digunakan secara tradisional untuk mengatasi masalah  
pencernaan atau sebagai herbal (tergantung spesies).  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Tumbuh subur dalam rumpun padat, menandakan tanaman sehat dan  
cocok dengan kondisi lingkungan, terpapar cahaya cukup terang, tanah  
lembap, serta area yang cukup terlindung dari angin kencang.  
Interaksi:  
Interaksi Biotik:  
Bunga berpotensi menarik serangga penyerbuk seperti lebah atau kupu-kupu.  
Daun dapat dimakan serangga herbivor kecil.  
Rumpun tanaman dapat menjadi tempat hidup serangga kecil.  
Interaksi Abiotik:  
Memerlukan cahaya matahari sedang hingga terang.  
Tumbuh optimal pada tanah lembap dan udara hangat.  
Interaksi dengan Manusia:  
Ditaman sebagai penghias taman/pekarangan.  
Dirawat dengan penyiraman rutin.  
Nama Umum (Lokal): Sri Rejeki, Daun Bahagia.  
Nama Ilmiah: Aglaonema commutatum.  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Nama Takson  
Plantae  
Phylum  
Magnoliophyta  
Liliopsida  
Class  
Order  
Alismatales  
Family  
Genus  
Species  
Araceae  
Aglonema  
A.commutatum atau Aglaonema commutatum.  
Deskripsi Umum:  
Sri rejeki, atau dikenal sebagai Aglaonema, adalah tanaman hias populer dari genus Aglaonema yang  
berasal dari hutan hujan tropis di Asia Tenggara. Tanaman ini memiliki daun yang indah dan beraneka  
warna, seperti hijau, putih, hingga merah muda. Sri rejeki termasuk tanaman evergreen yang tumbuh  
baik di tempat teduh dengan kelembapan tinggi, serta dikenal memiliki kemampuan menyerap racun  
dan menyegarkan udara.  
Ciri-Ciri Morfologi:  
Akar: Sri rejeki memiliki akar serabut (monokotil) yang sehat berwarna putih bersih, gemuk,  
dan berisi, dengan pertumbuhan rambut akar yang aktif.  
Batang: Batangnya kokoh, tidak berkambium (tidak berkayu), dan tumbuh pendek.  
Daun: Daunnya berbentuk oval dengan ujung meruncing, tekstur yang kuat, dan permukaan  
mengkilap.  
Habitat  
: Habitat asli di bawah hutan hujan tropis di Asia Tenggara, tumbuh di  
daerah yang memiliki intensitas cahaya rendah dan kelembapan tinggi.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: Lingkungan sekitar, perumahan yang tempatnya memiliki intensitas cahaya  
rendah dan lembab. Tanaman ini ditemukan tumbuh berada di perkarangan  
dalam rumah.  
: Daunnya yang tebal, mengkilap, dan memiliki warna serta corak yang  
beragam, seperti hijau polos, hijau bergaris putih, merah muda, atau  
perpaduan warna lainnya. Tanaman ini tumbuh subur di area teduh dengan  
kelembaban tinggi, berbatang lunak, dan memiliki akar serabut.  
Manfaat dan Peranan : Dikenal luas karena manfaat estetika dan kemampuannya untuk  
Ekologis  
meningkatkan kualitas udara di dalam ruangan. Peran ekologis utamanya  
berkisar pada fungsi-fungsi ini, terutama dalam lingkungan binaan atau  
sebagai tanaman hias.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Tanaman ini ditemukan di bawah pohon besar, hal ini menandakan bahwa  
Tanaman ini tumbuh subur di lingkungan yang lembap dan teduh.  
Interaksi:  
Interaksi Biotik:  
Terlihat beberapa akar dan batang tipis yang menjulur di atas permukaan tanah,  
menunjukkan upaya tanaman untuk memperluas pertumbuhan di sekitar area tanam  
(kompetisi spasial).  
Statusnya sebagai tanaman hias dalam pot atau area pekarangan menunjukkan interaksi  
dengan manusia melalui budidaya dan perawatan (penyiraman, penggantian media).  
Interaksi Abiotik:  
Tanaman Sri Rejeki berinteraksi dengan cahaya (cahaya terfilter, karena tanaman ini toleran  
naungan) untuk melakukan proses fotosintesis.  
Tanaman berinteraksi dengan tanah yang terlihat lembap dan gelap (kaya bahan organik)  
sebagai penyedia nutrisi dan air.  
Nama Umum (Lokal): Pohon Pepaya, Kates, Gedang, Kapaya, Papas, Kalikih.  
Nama Ilmiah: Carica papaya.  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Phylum  
Class  
Nama Takson  
Plantae  
Magnoliophyta  
Magnoliopsida  
Brassicales  
Caricaceae  
Carica  
Order  
Family  
Genus  
Species  
C.papaya.  
Deskripsi Umum :  
Pohon pepaya adalah tanaman herba berbatang tunggal yang tidak bercabang atau bercabang sedikit,  
tumbuh tegak hingga 5-10 meter. Ciri khasnya adalah mahkota daun berbentuk spiral di bagian atas  
batang, daunnya besar, menjari, dan berongga, sementara bunganya berwarna kekuningan yang  
terletak di ketiak daun. Buahnya bervariasi bentuknya, berwarna hijau saat muda dan berubah  
menjadi kuning hingga oranye saat matang, serta mengandung biji-biji hitam kecil di bagian  
tengahnya.  
Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati :  
Akar: Akar tunggang, berwarna putih kekuningan, dan bercabang banyak.  
Batang: Berbentuk bulat, berongga, bergetah, tidak berkayu, dan berwarna abu-abu  
kebiruan. Terdapat bekas pangkal daun dan tumbuh tegak lurus.  
Daun: Tunggal, besar, berwarna hijau tua di bagian atas dan hijau muda di bagian bawah,  
dengan pertulangan menjari dan tepinya bercangap.  
Habitat  
: Habitat pohon pepaya adalah daerah tropis dan subtropis yang hangat,  
dengan kondisi tanah lembap yang subur, pH 5,57, suhu udara 2327 °C,  
dan curah hujan 1.0002.000 mm per tahun. Pohon ini berasal dari Amerika  
Tengah dan tumbuh dengan baik di lokasi dengan sinar matahari penuh,  
namun pada awal pertumbuhannya membutuhkan tempat yang teduh.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: Lingkungan sekitar (Perumahan), Indonesia termasuk ke dalam iklim tropis  
sehingga dalam penanaman pohon pepaya ini tidak terlalu sulit.  
: Batangnya yang tegak, tidak bercabang, dan tidak berkayu; daunnya yang  
besar, menjari, dan memiliki tangkai panjang berongga; serta buahnya yang  
berbentuk bulat hingga lonjong dan memiliki rasa manis saat matang.  
Manfaat dan Peranan : menjaga kesuburan dan konservasi tanah karena akarnya yang dapat  
Ekologis  
mencegah erosi. Secara ekologis, pohon ini juga berperan dalam mendukung  
keanekaragaman hayati dengan menyediakan makanan bagi satwa dan  
menarik penyerbuk, serta menyerap karbon dioksida. Selain itu, kanopinya  
memberikan naungan yang dapat membantu mengatur suhu dan mencegah  
kehilangan air.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Pohon pepaya yang ditemukan diperkirakan berusia 4-6 bulan karena  
pohon tersebut terlihat sangat kecil serta belum menghasilkan buah pepaya.  
Interaksi:  
Interaksi Biotik:  
Tumbuh di bawah pohon berkanopi lebat di latar belakang (kemungkinan Mangga),  
menunjukkan kompetisi untuk mendapatkan cahaya (Pepaya menerima naungan sebagian).  
Daun-daunnya yang besar berpotensi menjadi objek herbivori oleh serangga atau hewan  
(tidak terlihat langsung, tetapi merupakan risiko lingkungan).  
Interaksi Abiotik:  
Pohon Pepaya berinteraksi dengan cahaya matahari yang cerah dan karbon dioksida untuk  
proses fotosintesis, ditunjukkan oleh daun-daunnya yang lebar.  
Pohon Pepaya tumbuh tegak, berinteraksi dengan gravitasi dan tanah sebagai penopang.  
Nama Umum (Lokal): Bunga Kertas, Bugenvil, Zinnia.  
Nama Ilmiah: Bougainvillea spectabilis.  
Klasifikasi dan Taksonomi:  
Tingkatan Takson  
Kingdom  
Phylum  
Class  
Nama Takson  
Plantae  
Magnoliophyta  
Magnoliopsida  
Caryophyllales  
Nyctagnaceae  
Bougainvillea  
B.spectabilis.  
Order  
Family  
Genus  
Species  
Deskripsi Umum :  
Bunga Kertas (Bougainvillea) adalah tanaman merambat tropis yang populer sebagai hiasan karena  
memiliki bractea (daun pelindung) berwarna-warni dengan tekstur mirip kertas. Tanaman ini memiliki  
batang berkayu keras dengan banyak percabangan, ditumbuhi duri tajam, dan dapat tumbuh  
mencapai 1 hingga 15 meter. Bunga aslinya berukuran kecil dan menyerupai terompet, dikelilingi oleh  
seludang bunga yang mencolok. Bougainvillea sangat cocok ditanam di wilayah tropis yang panas  
karena tidak memerlukan banyak udara dan toleran terhadap tanah yang agak kering. Kemudahan  
perawatannya membuat tanaman ini banyak dijumpai dan diminati sebagai penghias taman.  
Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati :  
Akar: : Berbentuk Tunggang, tumbuh vertikal, dan memiliki akar cabang yang menyebar.  
Batang: Berbentuk Perdu, tegak lurus, bulat memanjang.Memiliki Permukaan yang halus  
hingga kasar, berwarna kecoklatan.  
Daun: Berbentuk Bulat oval memanjang atau lanset.  
Tulang daun: Menyirip.  
Tangkai: Pendek : berwarna Hijau tua hingga muda.  
Bunga : tersusunan Majemuk, membentuk kelompok seperti payung (payung majemuk)  
yang tumbuh di ketiak daun.  
Struktur bunga : Terdiri dari tangkai, tenda bunga (daun pelindung), kepala putik, benang  
sari, dan tangkai sari.  
Daun Pelindung: Berukuran besar, tipis, dan sering disangka sebagai mahkota karena  
warnanya yang cerah.  
Habitat  
: Daerah beriklim tropis di Amerika Selatan, yang membuatnya tumbuh  
subur di Indonesia karena cocok dengan iklim tropis dan menyukai sinar  
matahari penuh. Bunga ini umumnya ditemukan di berbagai lokasi seperti  
pekarangan rumah, taman kota, atau area terbuka yang mendapat cahaya  
matahari melimpah selama minimal enam jam sehari.  
Lokasi Ditemukan  
Ciri Khas  
: Lingkungan sekitar rumah, tanaman ini menjalar ke tembok sekitarnya  
karena sifatnya sebagai tanaman rambat dan menyukai tempat dengan sinar  
matahari penuh.  
: Seludang bunganya yang berwarna cerah dan tipis seperti kertas,  
batangnya yang keras dengan duri tajam, dan kemampuannya tumbuh subur  
di iklim tropis. Ciri-ciri lainnya termasuk daunnya yang lebar, tumbuh  
merambat, dan dapat memiliki banyak variasi warna bunga seperti merah,  
merah muda, kuning, dan putih.  
Manfaat dan Peranan : Manfaat ekologis bunga kertas adalah meningkatkan kualitas udara dengan  
Ekologis  
menghasilkan oksigen dan menyerap polutan, serta mendukung  
keanekaragaman hayati dengan menarik penyerbuk seperti lebah dan kupu-  
kupu. Perannya juga sebagai penutup tanah dan hiasan yang membantu  
menghijaukan lingkungan.  
Catatan Hasil  
Pengamatan  
: Bunga kertas yang ditemukan memiliki ciri-ciri bunga berwarna pink dan  
menjalarnya bunga kertas ke tembok menandakan bahwa tanaman ini  
termasuk tanaman merambat.  
Interaksi:  
Interaksi Biotik:  
Kehadiran bunga-bunga berwarna cerah (magenta/merah muda) berfungsi sebagai daya  
tarik untuk serangga penyerbuk.  
Tumbuhan dirawat dan dipangkas (terlihat bentuknya yang rapi) dalam lingkungan rumah,  
menunjukkan interaksi budidaya intensif oleh manusia.  
Ranting-ranting saling berhimpitan membentuk semak yang padat, menunjukkan kompetisi  
antar ranting/daun untuk mendapatkan cahaya.  
Interaksi Abiotik:  
Bunga Kertas (yang membutuhkan sinar matahari penuh) berinteraksi dengan cahaya  
matahari yang cukup untuk mempertahankan kesehatan daun (hijau dan variegata) dan  
merangsang pembungaan.  
Tumbuhan membentuk semak padat yang berinteraksi dengan gravitasi dan tanah/pot  
sebagai tumpuan.